Open Kitchen ala Ko Atek

image

“Tidak usah dibantu, nanti tambah lama”, ujar Ko Atek yang menolak saya bantu membuka kantong plastik untuk membungkus cakue.

CAKUE KOATEK, tertulis dengan huruf besar dan tinta merah, di tembok warna hijau tua penanda warung kecil berukuran kira-kira 2×1.5m.

Ko Atek adalah salah satu pedagang di kawasan Pasar Baru, dagangannya cuma dua macam, cakue dan kue bantal. Penjual cakue di pasar baru ada lebih dari satu, namun yang menarik dari cakue ko Atek adalah cakue dibuat saat itu di depan pelanggan, jadi konsumen selain dapat menyaksikan kelihaian ko Atek membuat cakue, juga cakue langsung dapat dinikmati selagi hangat.

Cakue ko Atek memiliki konsep dapur terbuka atau open kitchen seperti yang tren di mal-mal.
Perbedaannya adalah di warung ko Atek tidak ada pembatas kaca antara koki dan konsumen, sehingga kita masih bisa berinteraksi dengan pembuat.

Ko Atek yang dibantu satu orang pegawai untuk bagian menggoreng, cukup berpengalaman menjaga ’emosi’ pelanggan. Contohnya saat saya dan temannya berniat membeli, ko Atek sibuk dengan adonan, pegawainya yang melayani kami, “pesan aja dulu, ntar abis loh”, ujarnya. “Satunya berapa pak?”, tanya saya. “Tiga ribu”, jawabnya. “Pesan cakue 10 pak, bungkus bikin dua, isi 6 sama 4, ini uangnya pak”. “Simpan aja dulu, ini masih lama, tinggal aja, nanti balik lagi”, kata pegawainya yang menjamin tidak sampai setengah jam cakue sudah siap.

Kami berdua meninggalkan warung ko Atek, dan berkeliling pasar baru, usai cuci mata kami kembali ke warung, ternyata warung semakin ramai, banyak antri. “Pak, punya kami mana?”. Tidak ada jawaban, baik dari ko Atek atau pegawainya, cuma di kasih senyum. “Katanya tadi suruh tinggal aja pak, ini masih lama?”. “Bentar lagi, abis ini ya, 6 sama 4 kan?”, jawab pegawainya. Kemudian kami menunggu sambil melihat ko atek dan adonannya, pelanggan yang antri dan pelanggan yang baru datang mulai diatur sama ko Atek. “Dia dulu ya, baru kamu, terus kamu, gak lama kok”, ujar ko Atek sambil menunjuk saya dan pelanggan yang lain.

image

Pesanan kami mulai dibuat, sambil menaikkan volume speakernya, ia berkata kepada pelanggan yang antri sebelum kami datang kembali mengambil pesanan, “Nah, loe uda ademan kan, suara lagunya uda gua naikkin”. Mendengar ocehan ko Atek, kami semua senyum-senyum, menunggu adonan masuk penggorengan.

Akhirnya, setelah menunggu kurang lebih 20 menit, cakue sudah mulai mengembang di penggorengan, menguning, dan ditiriskan, lalu ko Atek mulai memasukkan saus cakue ke dalam kantong plastik dan menyiapkan dua kertas roti untuk membungkus cakue. “Gua kasih bonus satu, kan beli 6 sama 4, jadi 10, satunya mau gua taruh mana?”, tanya ko Atek pada saya. “Teserah”, jawab saya. “Taruh di 6 aja, lagi ulang tahun”, sahut teman saya dari belakang.

Pemberian bonus adalah hal yang menyenangkan bagi pelanggan, walaupun jumlahnya tidak banyak, namun yang dilakukan ko Atek tidak semua pedagang bisa melakukannya, bagaimana mencari celah, menjaga hubungan, dan tetap fokus dalam bekerja sambil melayani para pembeli.

Usai membayar dan berterimakasih, kami pulang, sebelum pulang ko Atek berpesan, “jangan diikat ya kantong cakuenya”.
“Iya”, jawab kami. Kemudian kami pulang membawa cakue dan ilmu “open kitchen” ko Atek.

image

Photos by nikenishere.blogspot.com
Thanks Ken ^^

©ehsay2015

Advertisements

2 thoughts on “Open Kitchen ala Ko Atek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s